/jquery.min.js' type='text/javascript'/>

Friday, 22 May 2015

Langkah kerja yang dilakukan dalam merawat sistem pengapian

Langkah kerja atau hal-hal yang dilakukan dalam perawatan sistem pengapian konvensional adalah sebagai berikut:
  1. Memeriksa secara visual kelainan pada komponen dan rangkaian sistem pengapian.
  2. Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah busi.
  3. Memeriksa dan membersihkan kabel tegangan tinggi.
  4. Memeriksa, membersihkan rotor dan tutup distributor.
  5. Memeriksa nok, centrifugal advancer dan vacum advancer.
  6. Memeriksa koil pengapian.
  7. Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah platina/menyetel sudut dwell.
Berikut akan dijelaskan satu persatu dari ketujuh langkah kerja dalam perawatan sistem pengapian konvensional.
A) Memeriksa secara visual kelainan pada komponen dan rangkaian sistem pengapian
Memeriksa Secara Visual Komponen Sistem Pengapian

Pemeriksaan secara visual meliputi hal-hal berikut:
  • Memeriksa jumlah elektrolit baterai (kurang atau tidak), Memeriksa sambungan terminal baterai (kotor atau tidak), Memeriksa kondisi kabel baterai dari kemungkinan putus atau terbakar.
  • Memeriksa koil pengapian dari kemungkinan terminalnya kotor, kabel kendor, putus, terbakar atau bodi retak.
  • Memeriksa distributor dari kemungkinan retak, kotor, terminal aus dan pemasangan kurang baik.
  • Memeriksa kabel busi dari kemungkinan atau pemasangan kurang tepat.
B) Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah busi
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
  • Lepas kabel tegangan tinggi yang menempel dibusi, catat urutan kabel yang dilepas agar urutan pengapian tidak salah, karena kabel busi harus dipasang sesuai dengan urutan pengapian atau firing order (FO) yang benar.
Cara Melepas Kabel Tegangan Tinggi yang Benar
  • Lepas busi satu persatu, periksa bagaimana warna dan deposit karbon pada rongga busi, kondisi elektroda dan masukkan busi pada nampan yang berisi bensin.
  • Bersihkan rongga busi menggunakan sikat dan bersihkan elektroda busi dengan amplas. Perhatian: Jangan membersihkan kotoran pada rongga busi dengan benda keras, seperti obeng kecil atau kawat karena dikhawatirkann isolator porselin menjadi retak sehingga busi mati.
  • setel celah elektroda busi sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan kendaraan.
Mengukur Celah Busi, Menyetel Celah Busi dan Membersihkan Busi
  • Pasang kembali busi pada silinder. Pemasangan yang benar adalah memutar busi dengan tenaga ringan, setelah ulir habis mengencangkan 1/4 putaran dengan kunci busi.
Saat kita melakukan pengujian busi di luar silinder, kita dapat menyimpulkan busi masih baik, namun terdapat kemungkinan saat di dalam silinder busi mati karena busi bekerja pada tekanan lebih tinggi, sehingga kesimpulan kita salah, untuk mengatasi hal tersebut dibuat Spark plug cleaner and tester.

Cara menggunakan spark plug cleaner tester adalah sebagai berikut:
Membersihkan busi dengan spark plug cleaner tester
  1. Pasang busi yang akan dibersihkan pada lubang pembersih (3), tekan tombol udara untuk membersihkan kotoran yang menempel.
  2. Tekan tombol pasir pembersih sehingga pasir pembersih akan menyemprot rongga busi (atur tekanan 3-4 kg/cm2, waktu 3-4 detik).
  3. Ulangi langkah 1. dan 2. diatas sampai busi bersih. Setelah busi bersih maka tekan tombol udara (1) agar pasir yang masih menempel dapat bersih.
Spark Plug Cleaner tester

Memeriksa busi menggunakan spark plug cleaner tester
  1. Pasang busi pada lubang tempat pemeriksaan, bila diameter lubang dengan busi tidak tepat ganti ukuran lubang (diameter lubang yang tersedia untuk ukuran busi 10mm, 12mm dan 14mm).
  2. Tekan tombol spark test, dan lihat apakah terdapat percikan api pada celah jarum, yang dapat dilihat pada kaca pandang (9) dan (10), bila ada berarti alat berfungsi.
  3. Pasang kabel tegangan tinggi pada terminal busi.
  4. Tekan tombol spark test (6), pada beberapa kondisi tekanan, seperti ditunjukan tabel di bawah ini.
Tekanan yang digunakan
Hasil pengujian yang seharusnya
Tekanan 2-3 kg/cm2
Terjadi percikan api pada kaca pandang (9)
Tekanan 3-4 kg/cm2
Terjadi percikan pada kaca pandang (9) dan (10)
Tekanan 5 kg/cm2
Terjadi percikan pada kaca pandang (10)
Tekanan 2-3 kg/cm2
Terjadi percikan api pada kaca pandang (10) saja berarti busi sudah jelek
  

C) Memeriksa dan membersihkan kabel tegangan tinggi
  1.  Lepas kabel tegangan tinggi, bersihkan ujung kabel dari kemungkinan ada karat menggunakan amplas.
  2. Periksa tahanan kabel menggunakan ohm meter (multi meter bagian ohm, posisi selektor pada 1xK), tahanan kabel harus kurang dari 25 kilo ohm.
Mengukur Tahanan Kabel Tegangan Tinggi/Kabel Busi
Hal yang harus diperhatikan: jangan menekuk atau menarik kabel berlebihan sebab dapat merusak kabel tegangan tinggi.

D) Memeriksa, membersihkan rotor dan tutup distributor
  1. Lepas tutup distributor dengan melepas kait penguncinya.
  2. Periksa tutup distributor dari kemungkinan retak, karat/kotor pada terminal tegangan tinggi.
  3. Bersihkan terminal tegangan tinggi dengan amplas.
  4. Lepas rotor, bersihkan karat/deposit pada ujung rotor menggunakan amplas.
E) Memeriksa nok, centrifugal advancer dan vacum advancer
  1. Periksa permukaan poros nok dari kemungkinan aus, keausan secara visual dapat dilihat dari banyaknya goresan pada nok. Lumasi poros menggunakan grease.
  2. Periksa kerja centrifugal advancer dengan cara: Pasang kembali rotor yang telah dibersihkan, putar rotor searah putaran rotor saat mesin hidup. Lepas rotor maka rotor harus segera kembali. Kekocakkan rotor saat diputar tidak boleh berlebihan.
  3. Periksa vacum advancer dengan cara: lepas slang vacum, hubungkan ke pompa vacum, lakukan pemompaan, amati dudukan platina (breaker plate) harus bergerak. Bila tidak mempunyai pompa vacum dapat dengan cara dihisap dengan kuat.
Memeriksa Centrifugal Advancer dan Vacum Advancer

F) Memeriksa koil Pengapian
Langkah-langkah dalam memeriksa koil pengapian yaitu:
  • Atur selektor multi meter kearah X1ohm, kalibrasi ohm meter dengan cara menghubungkan kedua colok ukur, setel penunjukan jarum tepat pada 0 ohm, bila penyetelan tidak tercapai periksa/ganti baterai multi meter.
  • Periksa tahanan resistor dengan menghubungkan colok ukur pada kedua resistor. Nilai tahanan resistor seharusnya 1,3-1,5 ohm. Pada koil pengapian jenis internal resistor, pengukuran resistor dengan menghubungkan colok ukur pada terminal (B) dan terminal (+).
Memeriksa Tahanan Resistor dan Kebocoran ke Bodi
  • Periksa tahanan primer koil dengan menghubungkan colok ukur antara terminal (+) dengan terminal (-) koil. Nilai tahanan seharusnya 1,3-1,6 ohm.
Memeriksa Tahanan Primer Koil dan Sekunder Koil
  • Atur selektor pada posisi 1XK, kalibrasi ohm meter dengan cara menghubungkan kedua colok ukur, setel penunjukan tepat pada 0 ohm.
  • Periksa tahanan sekunder koil dengan menghubungkan colok ukur antara terminal (+) dengan terminal tinggi koil. Nilai tahanan 10-15 kilo ohm.
  • Periksa kebocoran atau hubungan singkat dengan cara menghubungkan (+) koil dengan bodi. Tahanan harus menunjukan tak hingga.
G) Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah platina/menyetel sudut dwell
Menyetel celah platina dan sudut dwell merupakan pekerjaan yang sama.
Perbedaan antara menyetel sudut dwell dengan menyetel celah platina adalah:
  • Menyetel sudut dwell menggunakan alat dwell tester untuk mengukur lama platina menutup. Pengukuran dilakukan dengan alat ukur elektrik, hasil pengukuran lebih akurat tapi harga alat mahal.
  • Menyetel celah platina menggunakan alat feeler gauge, untuk mengukur celah platina sebagai indikator lama atau sudut platina membuka. Hasil pengukuran kurang akurat, tetapi harga alat 1/1000 dari harga alat dwell tester.
  • Bila celah platina besar maka sudut dwell kecil, dan sebaliknya bila celah platina kecil maka sudut dwell menjadi besar.
Langkah menyetel celah platina
Langkah-langkah dalam penyetelan celah platina yaitu sebagai berikut:
  • Putar puli poros engkol sampai rubbing block pada puncak nok atau platina membuka maksimal.
  • Periksa kondisi permukaan platina dari kemungkinan aus, terbakar, kontak yang tidak tepat. Bila terjadi keausan platina, lepas platina dengan melepas sekerup pengikatnya. Amplas permukaan platina sampai keausan hilang, periksa ketepatan kontak permukaannya. Membersihkan platina juga dapat dilakukan langsung tanpa harus melepas dari dudukannya, namun dengan cara ini hasilnya sering menyebabkan permukaan kontak tidak tepat atau adanya serpihan amplas tertinggal dipermukaan kontak sehingga saat platina menutup tidak ada aliran listrik akibat terganjal oleh serpihan amplas.
Menyetel Celah Platina
  • Pasang kembali platina, geser penyetelan platina sampai platina membuka 0,40-0,50 mm, kencangkan sekerup pengikat namun platina masih dapat digeser.
  • Setel celah platina dengan cara menyisipkan feeler gauge ukuran 0,40-0,50 mm, bila feeler tidak dapat masuk berarti celah terlalu kecil, dan sebaliknya. Letakan obeng (-) pada tempat penyetelan putar obeng searah jarum jam untuk memperbesar celah dan sebaliknya. Kencangkan sekerup pengikat agar celah tidak berubah.
Beberapa kendaraan menggunakan celah rubbing block sebagai spesifikasi menyetel celah platina. Cara penyetelan kedua model tersebut sama, namun bila spesifikasi kendaraan menentukan celah rubbing block kita setel celah platina hasilnya dapat berbeda, untuk itu ikuti petunjuk yang diberikan produsen kendaraan.
Kelebihan penyetelan celah pada rubbing block adalah permukaan kontak platina tidak kotor oleh minyak pada feeler gauge, adanya minyak pada permukaan kontak menyebabkan oksidasi pada permukaan kontak lebih cepat sehingga usia platina lebih pendek.

Cara menyetel sudut dwell
Cara menyetel sudut dwell dengan dwell tester yaitu:
  • Pasang dwell tester sesuai petunjuk alat, untuk model 2 kabel maka kabel merah dihubungkan terminal distributor atau (-) koil pengapian, kabel hitam dihubungkan ke massa.
Pemasangan dwell Tester
  • Hidupkan mesin, lihat besar sudut dwell yang ditunjukan oleh alat ukur. Pada mesin 4 silinder spesifikasi sudut dwell sebesar 52+2 derajat.
  • Bila sudut dwell terlalu besar, berarti celah platina terlalu sempit. Matikan mesin, buka tutup distributor, kendorkan mur pengikat platina, setel sudut dwell dengan menggeser dudukan platina kearah celah platina yang lebih besar.
  • Pasang kembali tutup distributor, hidupkan mesin, periksa apakah hasil penyetelan sudut dwell telah tepat. Ulangi bila hasil penyetelan belum tepat.

Pembagian Arus Pada Mobil Berdsarkan Fungsinya

Dalam sistem Elektrikal Mobil / Kelistrikan mobil pada umumnya terdapat beberapa macam arus positif (+) atau yang sering kita sebut dengan STROOM yang dibagi menurut fungsinya, antara lain :
1. STROOM LANGSUNG
2. STROOM ACCESSORIES / ACC.
3. STROOM KONTAK ON / IGNITION
4. STROOM STARTER
Sedangkan untuk GROUND / Massa  / arus negatif (-) biasanya langsung dihubungkan ke bagian Mesin (Massa Engine) dan ke body mobil (Massa Body).

STROOM LANGSUNG
Yang dimaksud dengan Stroom Langsung disini adalah stroom yang langsung berhubungan dengan sumber daya (ACCU / Baterai) tanpa kita menyalakan kontak atau kunci kontak pada posisi OFF. Jadi stroom ini selalu standby walaupun kendaraan / mobil dalam keadaan mesin mati atau kontak off.
Ada beberapa sistem pada elektrikal mobil yang menggunakan Stroom Langsung, antara lain :
1. Lampu Head lamp / Head Light
2. Lampu Kecil / Lampu Kota (TAIL)
3. Lampu Rem / Lampu Stop
4. Lampu Hazzard
5. Lampu Foglamp
6. Lampu Plafon
7. Klakson / HORN
8. Central Lock
9. Alarm mobil

STROOM ACCESSORIES (ACC)
Dalam sistem elektrikal mobil yang dimaksud dengan Stroom Accessories yaitu stroom yang terhubung dengan sumber daya pada waktu kontak / kunci mobil diputar pada posisi ACC, dan mesin mobil masih dalam keadaan mati.
Beberapa perangkat mobil yang menggunakan Stroom accessories antara lain adalah :
1. Sistem Audio / Tape mobil.
2. Lighter
3. Jam
Selain menggunakan stroom accesories untuk sistem Audio mobil dan Jam juga membutuhkan/menggunakan stroom langsung untuk posisi standby.

STROOM KONTAK ON / IGNITION
Stroom kontak ini sangat penting dalam sistem elektrikal mobil karena banyak dipakai / digunakan untuk mensuplai stroom yang berhubungan dengan kontrol mesin / engine sebelum mesin mobil dihidupkan atau dinyalakan. Yang dimaksud dengan Stroom Kontak / Ignition disini yaitu stroom yang berhubungan dengan sumber daya pada waktu kunci kontak pada posisi ON, baik sebelum atau setelah mesin mobil dihidupkan.
Beberapa sistem perangkat mobil yang menggunakan Stroom kontak antara lain adalah :
  1. Lampu Sein / TURN
  2. Lampu Mundur
  3. AC Mobil
  4. Wiper
  5. Washer (Air wiper)
  6. Power Window
  7. Electric Mirror
  8. Switch Karburator
  9. Pompa bensin
10. Gauge
11. Coil
12. Alternator (Dinamo Ampere)
13. Electronic / Engine Control Unit (ECU)
14. Fan Radiator / Fan AC
15. DLL.

STROOM STARTER
Yaitu strom yang digunakan pada waktu kita akan menghidupkan / menyalakan mesin mobil, kontak pada posisi START. Stroom ini digunakan / dihubungkan pada Dinamo Starter yang berfungsi untuk menstarter mesin mobil. Selain itu, stroom starter ini juga biasa digunakam sebagai sinyal pada jalur relay pompa bensin (fuel pump),

PERMASALAHAN PADA LAMPU MOBIL
Pada sebuah mobil  umumnya terdapat beberapa sistem lampu antara lain : Lampu Head Lamp, Lampu Kecil / Lampu Kota (TAIL), Lampu Sein (TURN), Hazzard, Lampu Stop / Lampu Rem, Lampu Mundur / Lampu Atret, Lampu Plafon, Lampu Fog Lamp / Lampu Kabut dan lain-lain.
Untuk menjaga / merawat mobil anda supaya lampu-lampu yang ada tetap nyala dan berfungsi dengan baik perlu anda ketahui beberapa masalah yang sering terjadi pada sistem lampu kendaraan anda.

LAMPU HEAD LAMP / HEAD LIGHT
Lampu Head Lamp pada mobil yang standard umumnya berdaya  55/60 watt, sedangkan yang telah dilengkapi dengan relay lampu biasanya menggunakan lampu berdaya  90/100 watt sehingga lebih terang. Jadi apabila kendaraan / mobil anda masih menggunakan lampu standard (55/60 watt) dan akan diganti dengan lampu yang berdaya lebih besar (90/100 watt) sebaiknya ditambah / pasang KABEL RELAY LAMPU untuk menjaga keamanan kendaraan anda.

Masalah yang sering terjadi pada lampu Head Lamp antara lain :
-> Lampu tidak nyala (mati) kedua-duanya, kanan dan kiri (mati total).
-> Lampu nyala sebelah atau redup sebelah (lampu kanan atau kiri saja yang nyala).
-> Hanya lampu dekat (Low) saja yang nyala.
-> Hanya lampu jauh (High) saja yang nyala.
Untuk mengetahui penyebab kerusakan yang terjadi pada lampu Head Lamp bisa kita test dengan menggunakan Testpen untuk memastikan apakah penyebab tidak nyalanya lampu itu pada bohlamnya yang putus (mati) atau sekring (fuse) yang putus, atau mungkin jalur kabelnya yang bermasalah. Jika mobil anda dilengkapi dengan relay lampu, bisa juga terjadi kerusakan pada jalur Kabel Relay atau relaynya yang rusak.

Anda bisa melakukan test pada bagian soket lampu Head Lamp dan pada sekering (fuse) untuk mengetahui apakah terdapat arus (stroom) atau tidak pada jalur lampu tersebut.

LAMPU KECIL / LAMPU KOTA (TAIL)
Lampu kecil ini banyak terdapat pada kendaraan / mobil anda, ada pada bagian depan kanan dan kiri, bagian belakang kanan dan kiri, serta dibagian dalam (Dashboard). Lampu ini biasanya menggunakan bohlam yang berdaya kecil akan tetapi sangat penting fungsinya terutama untuk bagian belakang mobil anda.
Permasalahan yang sering terjadi pada lampu ini biasanya pada bohlam atau sekering yang putus sehingga menyebabkan lampu tidak nyala. Sedangkan penyebab kerusakan yang lain bisa terjadi apabila ada kesalahan penyambungan jalur yang menyebabkan korslet pada jalur lampu tersebut.

LAMPU SEIN (TURN) DAN HAZZARD
Pada umunya lampu sein ini terdapat di bagian depan kanan-kiri dan bagian belakang kanan-kiri kendaraan anda dan menyala dengan warna kuning,   ada pula yang terdapat di bagian samping mobil anda. Lampu ini berfungsi sebagai tanda pada waktu kendaraan mau belok ke kanan atau ke kiri, atau pada waktu mau menyalip kendaraan yang ada di depan kita. Sedangkan lampu hazzard berfungsi sebagai lampu peringatan atau lampu bahaya.
Permasalahan yang sering terjadi pada lampu ini biasanya tidak nyala disebabkan bohlam yang putus atau sekeringnya yang putus. Apabila lampu nyala tetapi tidak ngedip kemungkinan terdapat kerusakan atau masalah pada Flasher, atau jika ngedip terlalu cepat kemungkinan ada salah satu bohlam/lampu yang tidak nyala.

LAMPU STOP / LAMPU REM
Lampu ini terdapat pada bagian belakang kanan-kiri kendaraan anda, berfungsi sebagai tanda pada waktu kendaraanakan akan berhenti atau pada waktu menginjak rem. Lampu ini sangat penting karena memberi tanda pada kendaraan yang ada di belakang kita agar berhati-hati pada waktu kita menginjak rem.
Permasalahan pada lampu ini jika tidak nyala biasanya hanya bohlam atau sekering saja yang putus, tetapi ada juga yang disebabkan oleh switch rem yang rusak atau bermasalah.

LAMPU MUNDUR / LAMPU ATRET
Lampu ini hanya terdapat pada bagian belakang kendaraan anda dan berfungsi sebagai tanda bahwa kendaraan anda mau atau sedang berjalan mundur, terutama pada waktu mau parkir. Jika lampu ini tidak nyala bisa disebabkan bohlam atau sekring yang putus dan kemungkinan lain terdapat masalah pada switch mundur yang rusak atau tidak berfungsi dengan baik.

LAMPU FOGLAMP
Tidak semua mobil ada / mempunyai kelengkapan Lampu ini, jadi apabila pada kendaraan anda terdapat lampu foglamp atau anda ingin menambah / memasang lampu Foglamp baru, ada baiknya anda perlu perhatikan beberapa hal berikut ini : Sebaiknya gunakan lampu yang sesuai standard mobil anda, biasanya untuk lampu yang standard berdaya 55 watt, jika ingin mengganti dengan daya yang lebih besar sebaiknya dilengkapi juga dengan Kabel Relay untuk menjaga keamanan kendaraan anda agar tidak terjadi korslet atau kabel panas/terbakar karena kelebihan beban.

Thursday, 21 May 2015

Toyota Fuel Cell System (TFCS)

Kendaraan Fuel Cell adalah kendaraan yang mendapatkan bahan bakar melalui reaksi kimia antara hydrogen dan oksigen, sel bahan bakar kendaraan tersebut menghasilkan listrik untuk motor kendaraan. Dengan di support oleh teknologi Hidrogen, sumber energi ramah lingkungan dapat diproduksi dari berbagai sumber bahan baku.

Upaya Toyota untuk menghasilkan suatu inovasi baru dengan teknologi Hidrogen dimulai pada tahun 1992 bahkan sebelum Toyota Prius dirilis. Lalu, pada tahun 2002, Toyota memulai penjualan pertama di dunia kendaraan yaitu dengan projek “Toyota FCHV” di Jepang dan Amerika Serikat. Toyota juga membuat penggunaan teknologi kendaraan Hybrid dalam pengembangan bahan bakar kendaraan.

Selain penting untuk keramahan lingkungan, didukung pula dengan sensasi fun to drive dan juga menawarkan kenyamanan berkendara serta kinerja kendaraan.

Toyota Fuel Cell System (TFCS) didalam Toyota Mirai

Toyota Mirai mempunyai fitur Toyota Fuel Cell System (TFCS), yaitu menggabungkan teknologi sel bahan bakar dengan teknologi hybrid.

Fitur Mirai Cell ini dianggap lebih hemat energi daripada mesin pembakaran biasa serta menawarkan kinerja lingkungan yang sangat baik tanpa memancarkan CO2 selama berkendara. Pada saat yang sama, fitur ini juga memberikan kenyamanan berkendara setara dengan kendaraan bermesin bensin konvensional, 1 dari sekitar 640 km dan waktu pengisian bahan bakar sekitar 3 menit. *menurut hasil test drive

Selain itu, Mirai dapat berfungsi sebagai power supply yang berkapasitas tinggi selama keadaan darurat. Mirai mengubah daya DC dari soket listrik yang terletak di dalam bagasi untuk listrik AC yang dapat terhubung langsung dari sistem kendaraan ke rumah atau sistem kendaraan ke perangkat lainnya

Sumber : http://toyota.astra.co.id